17.4.12

Pelajaran Pencak Silat Dalam Mata Pelajaran Olah Raga

Pengertian pencak silat sangatlah luas tergantung bagaimana seseorang memandang dari sudut mana mereka memandang berdasarkan disiplin ilmunya. Seperti halnya pengertian pencak silat, seseorang yang akan mendefinisikan memang harus benar-benar faham akan dunia pencak silat. Arti umum dari pencak silat itu sendiri adalah, gerak bela diri untuk mempertahankan diri dari lingkungan sekitar dengan berlandaskan iman dan taqwa.

Beberapa pengertian pencak silat menurut Wongsonegoro, Koesoepangat, Maryono, dan tokoh-tokoh pendiri IPSI (dalam Sucipto, 2007: 119), diantaranya adalah:
·   Wongsonegoro ketua IPSI yang pertama menyatakan, Pencak adalah gerakan serang-bela yang berupa tari dan berirama dengan peraturan adat kesopanan tertentu, yang bias dipertunjukkan didepan umum.
·     Koesoepangat, mengatakan Pencak sebagai gerak bela diri tanpa lawan, dan Silat sebagai bela diri yang tidak boleh dipertandingkan.
·    Maryono menyimpulkan bahwa, yang menjadi criteria untuk membedakan arti ‘Pencak’ dan ‘Silat’ adalah apakah sebuah gerakan itu boleh ditonton atau tidak.
·    
      Tokoh-tokoh pendiri IPSI akhirnya sepakat untuk tidak membedakan pengertian Pencak dengan Silat, karena kedua kata tersebut memang mempunyai pengertian yang sama. Kata Pencak maupun Silat sama-sama mengandung pengertian kerohanian, irama, keindahan dan kiat maupun praktek, kinerja atau aplikasinya.

Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa, pencak silat adalah gerakan yang berirama dan dapat diperagakan didepan umum apabila sifatnya tidak dalam bentuk kekerasan (komedi), sedangkan yang bersifat kekerasan (menangkis, menyerang, mengunci dan lain-lain), tidak dapat diperagakan didepan umum. Akan tetapi, seiring dengan berkembangkannya ilmu bela diri, peragaan pencak silat sekarang sekarang dapat dipertontonkan untuk khalayak umum. Itupun tetap dalam jalur yang telah ditetapkan oleh PB. IPSI, yaitu di dalam arena pertandingan saja.

Ciri Gerakan Pencak Silat Indonesia
Pencak silat berkembang dan terpadu dalam budaya dan adat istiadat tradisional masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah, pencak silat masih memegang peranan penting dalam kegiatan upacara adat dan dijaga kelestariannya melalui sesepuh-sesepuh masyarakat setempat. Menurut Sucipto (2007: 120), meskipun terdapat berbagai aliran pencak silat di Indonesia, namun pada dasarnya memiliki cirri-ciri umum yang sama, yaitu :
Pencak silat mempergunakan seluruh bagian tubuh dan anggota badan dari kuku pada ujung jari-jari atau tangan sampai dengan rambut (terutama wanita) untuk membela diri.
Pencak silat dilakukan dengan tangan kosong atau dengan senjata.
Pencak silat tidak memerlukan senjata tertentu, benda apapun dapat dijadikan senjata (kayu, batu, pasir, paying, saputangan, tas, tusuk konde, sandal, selendang, dan sebagainya).
Pencak silat lahir dan tumbuh serasi dengan: alam sekitarnya, alat istimewa, adab sopan santunnya,temperamennya/ watak dan kepribadian suku bangsanya, agama atau kepercayaan dan kebatinannya.

Meskipun ada ciri-ciri umum diatas, setiap daerah mempunyai cirri khas masing-masing yang disebabkan oleh pengaruh budaya, keadaan wilayah dan kepribadian serta pendidikan setempat.

Tujuan Pencak Silat
Pencak silat mengandung empat aspek. Setiap aspek pencak silat menggambarkan tujuan, satu sama lain merupakan satu kesatuan. Menurut Sucipto (2007: 121), ke empat aspek tersebut yang mendasari pengembangan pencak silat menjadi 4 tujuan, yakni:
Pengembangan pendidikan mental spiritual
Pencak silat juga merupakan sarana yang ampuh untuk pembinaan mental spiritual, terutama untuk mewujudkan budi pekerti yang luhur. Pencak silat telah menunjukkan jati dirinya dan telah terbukti membentuk kepribadian yang kokoh bagi para pengikutnya. Seorang pesilat harus mempu menjaga, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai dasar ketekunan, kesabaran, kejujuran, kepahlawanan, kepatuhan dan kesetiaan. Bela diri pencak silat bertujuan untuk, mengembangkan aspek akhlak dan rohani (pendidikan mental spiritual) :
Bertakwa kepada Tuhan YME dan berbudi luhur. Tenggang rasa, percaya diri sendiri dan berdisiplin. Cinta bangsa dan tanah air. Persaudaraan, pengendalian diri dan tanggung jawab sosial. Solidaritas sosial, mengejar kemampuan serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan. Pengembangan aspek bela diri


Pencak silat beladiri bertujuan untuk mengembangkan aspek bela diri yaitu terampil dalam gerak efektif untuk menjamin keselamatan/ kesiapsiagaan fisik dan mental yang dilandasi sikap ksatria, tanggap, dan mengendalikan diri. Hal ini berarti adanya kewajiban untuk :

  • Berani menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan.
  • Tahan uji dan tabah didalam menghadapi cobaan dan godaan.
  • Tanggap, peka, cermat dan tepat didalam menelaah permasalahan yang dihadapi maupun dalam mengatasinya.
  • Selalu melaksanakan ilmu padi dan menjauhkan diri dari sikap dan perilaku sombong.



Pencak silat untuk pengembangan seni
Pada dasarnya pencak silat dapat juga dikatakan sebagai pencak silat bela diri yang indah. Pada saat diperlukan pencak silat seni dapat difungsikan kembali ke asalnya menjadi pencak silat bela diri. Pencak silat seni memiliki nilai estetika, orientasinya keindahan dalam arti luas yang meliputi keselarasan dan keserasian.
Berkaitan dengan nilai estetika tadi, maka pencak silat seni dapat dievaluasi berdasarkan ketentuan estetika sebagai berikut, yakni “Wiraga, Wirama, dan Wirasa” (Bahasa Jawa) sebagai kesatuan. Kata Wi mempunyai arti bermutu atau bagus. Wiraga berarti penampilan tehnik sikap dan gerak dengan rapih dan tertib. Wirama berarti penampilan tehnik sikap dan gerak dengan irama yang serasi dan jika itu diiringi dengan music, ia bersifat kontekstual. Wirasa berarti penampilan tehnik sikap dan gerak dengan penataan (koreografi) yang menarik.


Pencak silat untuk pengembangan olahraga

Pencak silat sebagai olahraga bertujuan untuk mengembangkan aspek olahraga, yaitu terampil dalam gerak efektif untuk menjamin kesehatan jasmani dan rohani yang dilandasi hasrat hidup sehat.

Hal ini berarti kesadaran untuk :

  • Berlatih dan melaksanakan olahraga pencak silat sebagai bagian kehidupan sehari-hari.
  • Selalu menyempurnakan prestasi jika, latihan dan pelaksanaan olahraga tersebut berbentuk pertandingan.
  • Menjunjung tinggi sportifitas.
  •  


Dari aspek-aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa pencak silat mengutamakan hubungan yang seimbang antara Tuhan, sesama manusia dan lingkungannya. Semua itu ditetapkan dalam pembelajaran pencak silat agar berjalan selaras dan seimbang untuk bias mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat

Apa Yang Anda Cari ?